Pusrisdaya Logjam Gelar Rapat Perdana Tahun 2026, Bersinergi Membangun Budaya!

Purwokerto, 26 Mei 2026 — Pusat Riset dan Pengembangan Budaya Lokal Mahasiswa (Pusrisdaya Logama) menggelar rapat koordinasi kegiatan pada Selasa, 26 Mei 2026 bertempat di Sekretariat Budaya dan Kearifan Lokal. Rapat dipimpin oleh Imam Suhardi selaku Ketua dan dihadiri oleh Abdul Rohman sebagai sekretaris, Sendy Noviko, Ulul Huda, Nisa Roiyasa, Exwan Andriyan Verrysaputro, serta sejumlah peserta dan mitra kegiatan lainnya.

Dalam rapat tersebut, dibahas rencana kolaborasi antara Pusrisdaya Logama dengan Laboratorium Pertunjukan dan Seni dalam penyelenggaraan kegiatan bertema:
“Geguritan: Masih Relevankah Saat Ini?”
Kegiatan ini dirancang dalam bentuk diskusi budaya dan talkshow yang membahas eksistensi geguritan di tengah perkembangan era digital serta perannya sebagai media ekspresi budaya masyarakat masa kini.
Ketua Pusrisdaya Logama, Imam Suhardi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi upaya untuk menghadirkan kembali geguritan sebagai ruang dialog budaya yang dekat dengan generasi muda.
“Geguritan bukan sekadar sastra lama, tetapi juga ruang ekspresi yang masih memiliki makna kuat hingga hari ini. Kami ingin menghadirkan diskusi yang mampu menjembatani tradisi dan realitas generasi sekarang,” ujar Imam Suhardi.

Selain agenda diskusi budaya, Pusrisdaya Logama juga merancang program Pengabdian kepada Masyarakat yang akan dilaksanakan pada 26–28 Agustus 2026 di wilayah Pakis dan Gunung Lurah. Kegiatan tersebut akan mengangkat tema penciptaan puisi berbasis budaya lokal yang nantinya akan dihimpun dalam bentuk antologi puisi, dipublikasikan, serta diajukan dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Ulul Huda turut menyampaikan bahwa pengabdian masyarakat ini tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya, tetapi juga pengembangan kreativitas masyarakat melalui karya sastra.

“Kami berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga terlibat sebagai pencipta karya. Geguritan dan puisi dapat menjadi media untuk merekam pengalaman sosial dan identitas lokal,” ungkap Ulul Huda.
Dalam pembahasan teknis, disampaikan kebutuhan dukungan kegiatan meliputi honorarium juri, konsumsi tambahan, serta kebutuhan panggung dan pertunjukan. Selain itu, akan dibentuk ST Tim guna menunjang persiapan teknis pelaksanaan acara.
Rapat juga membahas rencana pelibatan berbagai pihak, termasuk Dewan Kebudayaan, Kepala Dinas Dinpora Budpar, akademisi, dan pegiat budaya lainnya sebagai tamu undangan maupun narasumber kegiatan.

Pak Wanto direncanakan membahas aspek teknis pelaksanaan kegiatan, sementara Pak Jumbuh akan mengulas aspek filosofis geguritan, fungsi geguritan di era saat ini, serta posisinya sebagai instrumen budaya dan media ekspresi masyarakat.
Adapun revisi proposal kegiatan ditargetkan selesai sebelum 2 Juni 2026 sebagai bagian dari tahapan persiapan program.
Melalui kegiatan ini, Pusrisdaya Logama berharap geguritan tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai medium kreatif yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *